Contacts

92 Bowery St., NY 10013

thepascal@mail.com

+1 800 123 456 789

Mustajabnya Berdoa Setelah Ashar di Hari Jumat

LAZ AL HILAL – Berdoa menjadi senjata bagi umat muslim untuk mencapai harapan yang diinginkan. Berdoa adalah salah satu ikhtiar kita kepada Allah SWT selain usaha maksimal yang dilakukan. Sahabat Al Hilal, sungguh Allah SWT sangat mencintai hamba-Nya ketika kita berdoa. Bahkan Allah SWT berjanji kepada umat-Nya dalam QS. Ghafir ayat 60, yang berbunyi:

ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Berdoa lah kepadaKu, Aku akan kabulkan doa kalian. Sungguh orang-orang yang menyombongkan diri karena enggan beribadah kepada-Ku, akan dimasukkan ke dalam neraka jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghafir: 60)

Dilansir dari laman tribunnews, dan berbagai sumber. Allah SWT menjawab doa hambanya dengan memiliki tig acara, yakni

  1. Allah SWT Akan Langsung Mengabulkannya Doa Hambanya di Dunia,
  2. Yang Kedua Allah SWT Akan Mengabulkannya Di Akhirat,
  3. Allah SWT Akan Menggantinya Dengan Menjauhkan Hamba Dari Musibah.

Diriwayatkan dalam hadist riwayat Thabrani, Rasulullah SAW bersabda

Tiada seorang berdo’a kepada Allah dengan suatu do’a, kecuali dikabulkanNya, dan dia memperoleh salah satu dari tiga hal, yaitu dipercepat terkabulnya baginya di dunia, disimpan (ditabung) untuknya sampai di akhirat, atau diganti dengan mencegahnya dari musibah (bencana) yang serupa.” (HR. Thabrani)

Lantas kapan waktu paling baik seorang hamba memanjatkan doa pada Allah SWT? Tentu, salah satu waktu yang paling baik seorang hamba memanjatkan doa kepada Allah SWT yaitu setelah shalat Ashar di hari Jumat.

Hari Jumat adalah waktu mustajab untuk berdoa. Khususnya di waktu yang sedikit di hari itu, sangat mustajab sehingga Rasulullah menyebutkan tidaklah hamba berdoa melainkan pasti dikabulkan Allah Ta’ala. Insya’Allah

Bahkan Rasulullah SAW pun bersabda dalam HR. Abu Dawud, beliau bersabda:

‘Pada hari Jum’at terdapat dua belas jam (pada siang hari), di antara waktu itu ada waktu yang tidak ada seorang hamba muslim pun memohon sesuatu kepada Allah melainkan Dia akan mengabulkan permintaannya. Oleh karena itu, carilah ia di akhir waktu setelah ‘Ashar,’ (HR. Abu Dawud)

Informasi & Call Center

🌐 Website: www.alhilal.or.id

☎ Telpon: 022-2005079

📱 WA: 081 2222 02751

©️ Laz Al Hilal Copyright Picture

Penyaluran dan Pembagian Sabun Cuci Tangan Untuk Masjid

LAZ AL HILAL – Alhamdulillah beberapa masjid yang berada di wilayah Gegerkalong, Setiabudi, dan Ciwaruga bandung telah menerima bantuan dari program pembagian sabun cuci tangan gratis untuk ummat. Pada Selasa (09/03/2021) tim yang berjumlah tiga orang, Ustadz Andri, Rozak Rizki, serta Yogi Saputra membagikan sabun cuci tangan gratis ke sejumlah lima masjid di area tersebut telah menerima bantuan sabun cuci tangan gratis.

Program pembagian sabun cuci tangan untuk masjid di wilayah tersebut bertujuan untuk menambah kebersihan diri dari para jamaah masjid. Seperti yang kita ketahui saat ini seluruh dunia sedang dihadapkan dengan wabah virus COVID-19 yang sampai saat ini belum selesai. Maka dari itu, pembagian sabun cuci tangan ini bertujuan agar para jamaah yang berada di wilayah masjid tersebut selalu terjaga kebersihannya. Dan InsyaAllah program ini menjadi salah satu cara atau solusi untuk mengatasi dan menekan penyebaran wabah virus COVID-19.

Program Pembagian sabun cuci tangan gratis ini dilaksanakan kemarin pun InsyaAllah akan Kembali dilaksanakan pada Jumat (12/03/2021) agar sabun yang didistribusikan untuk ummat dan para jamaah sholat Jumat yang InsyaAllah akan langsung menerima manfaatnya. Karena, masjid yang berada di wilayah tersebut sering dikunjungi oleh jamaah yang berada di berbagai wilayah untuk sholat Jumat. Maka dari itu, tim pembagian sabun cuci tangan gratis ini melaksanakan pendistribusian untuk wilayah setempat.

Pembagian sabun cair yang dilaksanakan sejak pukul 14.00 WIB hingga sore hari.

Informasi & Call Center

🌐 Website: www.alhilal.or.id

☎ Telpon: 022-2005079

📱 WA: 081 2222 02751

©️ Laz Al Hilal Copyright Picture

Amalan Dzikir Sebelum Memperingati Isra Miraj Nabi Muhammad Berikut Penjelasan Apa Itu Isra dan Miraj

(Sumber Pos Kupang)

LAZ Al Hilal – Tahun 2021 atau 1442 Hijriah ini Isra Miraj Nabi Muhammad SAW jatuh pada tanggal 11 Maret 2021, tepatnya di hari Kamis. Berdasarkan kalender nasional tanggal 11 Maret juga ditetapkan sebagai hari libur.

Sahabat Al Hilal, untuk mengingat kembali apa itu Isra Mirah berikut pengertian Isra Miraj, yuk simak! Isra adalah perjalanan Nabi Muhammad dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsho di Yerussalem.

Sedangkan Miraj adalah perjalanan Nabi Muhammad dari bumi menuju langit ketujuh, lalu dilanjutkan ke Sidratul Muntaha. Sidaratul Muntaha menjadi akhir perjalanan untuk menerima perintah Allah SWT. Perintah tersebut berupa sholat lima waktu sehari semalam.

Peristiwa Isra Mi’raj menjadi peristiwa yang agung dalam perjalanan hidup Nabi Muhammad. Sebagian orang meyakini Isra Mi’raj terjadi pada bulan Rajab.


Tentang Amalan Zikir 

Jelang peringatan Isra Miraj, ada baiknya Umat Muslim meningkatkan ibadah serta memperbanyak amalan. Salah satunya dengan berzikir:

Berikut ini zikir yang diajarkan Nabi Ibrahim kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam dalam perjalanan Isra Miraj yang dianjurkan dibaca oleh umat Rasulullah

لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّ

Laa haula walaa quwwata illa billah

“Tidak ada daya dalam menjauhi maksiat dan tidak ada upaya menjalankan ketaatan melainkan dengan pertolongan Allah”

Zikir tersebut bisa dilihat dari yang diriwayatkan oleh Abu Ayyub Al Anshari ra.

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لَيْلَةَ أُسْرِىَ بِهِ مَرَّ عَلَى إِبْرَاهِيمَ فَقَالَ مَنْ مَعَكَ يَا جِبْرِيلُ قَالَ هَذَا مُحَمَّدٌ.فَقَالَ لَهُ إِبْرَاهِيمُ مُرْ أُمَّتَكَ فَلْيُكْثِرُوا مِنْ غِرَاسِ الْجَنَّةِ فَإِنَّ تُرْبَتَهَا طَيِّبَةٌ وَأَرْضَهَا وَاسِعَةٌ. قَالَ « وَمَا غِرَاسُ الْجَنَّةِ ». قَالَ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ

Artinya: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada malam Isra’, pernah melewati Nabi Ibrahim ‘alaihis salam.

Nabi Ibrahim ketika itu bertanya pada malaikat Jibril, “Siapa yang bersamamu wahai Jibril?” Ia menjawab, “Muhammad.”

Ibrahim pun mengatakan pada Muhammad, “Perintahkanlah pada umatmu untuk membiasakan memperbanyak (bacaan dzikir) yang nantinya akan menjadi tanaman surga, tanahnya begitu subur, juga lahannya begitu luas.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apa itu ghirosul jannah (tanaman surga)?” Ia menjawab, “Laa hawla wa laa quwwata illa billah (tidak ada daya dalam menjauhi maksiat dan tidak ada upaya menjalankan ketaatan melainkan dengan pertolongan Allah).” (HR. Ahmad, 5: 418)

Hadis ini secara sanad dhaif, tapi Syaikh Al-Albani berujar isi hadis itu shahih karena punya berbagai macam penguat. Meski begitu, mayoritas ulama tidak mewajibkan agar zikir itu dibaca pada malam Isra Miraj. Zikir itu bisa dibaca kapan saja dan dalam keadaan apa pun.

Demikian zikir penyubur tanaman di surga yang diajarkan Nabi Ibrahim kepada Nabi Muhammad.

“Jangan Salahkan Hijabku!” Tapi, bisakah kamu menjaga kemuliaan hijabmu?

LAZ Al Hilal – Mengenakan hijab adalah kewajiban bagi semua perempuan muslim. Allah subhanahu wa ta’ala, Tuhan kita, Dzat yang telah menciptakan kita sempurna dengan akal yang telah memerintahkan langsung melalui firmannya:

“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang Mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan hijabnya ke seluruh tubuh mereka.” QS. Al-Ahzab [33]: 59.

Oleh karena itu, saat perempuan muslim melakukan sebuah kesalahan, kita tidak boleh menyalahkan hijab yang dikenakannya karena hijab adalah perintah langsung dari Allah dan melakukan kesalahan adalah fitrah manusia. Tidak ada manusia di dunia ini yang tidak memiliki kesalahan.

Sahabat Al Hilal Pakai hijab, tapi kok..

Jangan menyalahkan hijabnya hanya karena perilakunya tak sebaik yang dibayangkan, sebab keduanya adalah hal yang berbeda. Engkaupun tak tahu betapa ia berusaha dalam menyeimbangkan keduanya (jilbab dan perilakunya) selama ini.

Apapun niatnya mengenakan hijab, bagaimana ia mengenakan hijab (ataukah diulur ataukah dililit semua adalah proses), yang paling penting adalah ia telah melakukan perintah Allah subhanahu wa ta’ala untuk menutup auratnya.

Tapi Sahabat Al Hilal, coba kita tengok sebentar keadaan di sekitar kita. Tidak perlu jauh-jauh tengok sampai ke luar, kita lihat saja sebagian saudara-saudara muslim kita di Indonesia. Baik di dunia maya maupun di dunia nyata, banyak sekali ditemukan perilaku-perilaku yang sungguh tidak mencerminkan wanita muslimah, bahkan tidak mencerminkan budaya timur, akhlak manusia Indonesia yang terkenal akan kesantunannya.

Ia mengenakan hijabnya, namun tawanya menggelegar sampai-sampai banyak pasang mata yang menoleh ke arahnya. Ia mengenakan hijabnya, namun duduknya serampangan. Ia mengenakan hijabnya, namun ia teriak-teriak seperti sedang di hutan. Ia mengenakan hijabnya, namun nama-nama hewan turut serta keluar dari mulutnya dengan lentur saat bicara. Ia mengenakan hijabnya, namun ia paling handal dalam bergibah.

Ia mengenakan hijab panjangnya, namun di kendaraan umum ia cari ribut dengan wanita lainnya, bicara begitu lantang seakan tidak mau kalah debat. Ia mengenakan hijabnya, namun ia sendirian berkumpul dengan banyak lelaki yang bukan mahramnya, pundaknya dirangkul bergantian, tertawa dengan gairah masa muda namun orang lain bahkan risih melihatnya.

Belum lagi di dunia maya, berlenggak lenggok dengan berbagai macam gaya untuk memperindah feed nya. Tidak heran, ada saja yang berbicara, “Pakai hijab, tapi kok..”

Bagaimana kita mau memotivasi saudara muslim kita yang belum berhijab kalau perilaku kita yang sudah berhijab seperti itu, Sahabat Al Hilal, kewajiban berhijab dengan perilaku kita tidak dapat dicampur adukkan karena dua hal itu adalah sesuatu yang berbeda.

Tapi Sahabat Al Hilal, bisakah memuliakan hijab kalian dengan perilaku kalian? Bisakah kalian merasa malu saat kalian sudah mengenakan hijab indah kalian, tapi perilaku kalian demikian. Sehingga perkataan, “Pakai hijab, tapi kok..” tidak lagi terdengar.

Mengubah perilaku memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tapi apabila rasa malu sudah tertanam di dalam diri kita, dan kita ingin menjaga dan memuliakan hijab kita, hal tersebut tidak akan sulit, Sahabat Al Hilal. Sama halnya apabila kita sudah menanam dalam diri kita bahwa racun itu mematikan, sehingga saat kita tahu ada kue beracun yang tampak begitu lezat kita pun akan menahan diri untuk tidak memakannya.

“Sesungguhnya setiap agama itu memiliki akhlak dan akhlak Islam itu adalah rasa malu.” HR. Ibnu Majah no. 4181. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan”

Ambulance Gratis LAZISWAF Siap Antarkan Jenazah Dari Jalan Pahlawan menuju TPU Cikutra

LAZ Al Hilal – Kabar duka menghampiri dari keluarga dari Ibu Sri Nursidah, Ibu Sri meninggal di usia 88 tahun. Sebelumnya memang akhir-akhir ini kondisi Ibu Sri semakin menurun akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya pada hari Senin, 07 Maret 2021 di rumahnya, keluarga dari Ibu Sri sempat binggung dengan transportasi kendaraan untuk menuju ke pemakaman ketika mencari bantuan keluarga berhasil menghubungi Yayasan Al Hilal untuk meminta bantuan.

Akhirnya Ambulance datang, untuk membantu mengantarkan Jenazah ke peristirahatan terakhirnya dari Jalan Pahlawan menuju TPU Cikutra, di dalam perjalanan sempat terhambat karena macet, namun akhirnya sampai pada tujuan dengan selamat. Sahabat Al Hilal dalam keadaan mendesak biasanya untuk pengisian formulir atau data diri biasanya akan di isi ketika kegiatan sudah selesai.

Sahabat Al Hilal perlu di ketahui bahwa kematian adalah misteri kehidupan dan menjadi suatu perkara yang dalam syariat islam perkejaan yang harus di laksanakan dengan segera, tetapi masih kita temukan banyak keluarga di luar sana yang tidak beruntung nasibnya, dimana mereka sangat kesulitan untuk pengiriman dan pengurusan jenazah. Salah satunya adalah keluarga Ibu Sri, sempat kebinggungan namun dengan ada program “Ambulance Untuk Ummat” keluarga Ibu Sri sangat terbantu.

Apalagi biaya ambulance ternyata sampai lebih dari Rp. 4.000.000,- sangat mahal bukan? Akhirnya program ini menjadi alasan untuk membantu ummat, dalam rangka meringkankan beban. Bukan hanya kaum muslim saja namun non muslim juga akan di bantu, pastinya tidak melihat apa itu agama, suku, sesuai dengan misi awal adalah membantu ummat. Dan kami berterima kasih banyak kepada donatur yang telah berpartisipasi untuk menjalankan program “Ambulance Gratis Untuk Ummat” semoga menjadi pahala.

Dan jika ingin menggunakan jasa “Ambulance Gratis Untuk Ummat” sahabat Al Hilal perlu memperhatikan beberapa syarat dan ketentuannya:

  1. Wilayah operasional meliputi Kota Bandung dan sekitarnya dengan radius 30 KM
  2. Waktu layanan di utamakan pada jam kerja yaitu, 08.00-16.00
  3. Layanan di luar jam kerja hanya melayani kondisi darurat saja
  4. Hubungi layanan ambulance ke nomor 0811-2222-2384

Namun maaf ketika pelayanan kami sangat kurang responsif dalam merespon, karena banyak yang menggukan pelayanan kami, dan masih ada keterbatasan.

“Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah SWT pinjaman yang baik, niscaya akan dilipatgandakan (ganjarannya) kepada dan bagi mereka pahala yang banyak” (Q.S Al Hadid : 18)

Anak Indigo dalam Pandangan Islam

Anak Indigo dalam Pandangan Islam

Fenomena anak indigo kerap menjadi perbincangan dalam dunia sains dan spiritualitas. Beberapa kalangan mengaitkannya dengan kemampuan Extra Sensory Perception (ESP) atau indra keenam, yang memungkinkan seseorang memiliki intuisi tajam, merasakan energi, hingga melihat hal-hal yang tidak tampak oleh manusia biasa.

Dari perspektif sains, beberapa penelitian menyebutkan bahwa anak indigo memiliki gelombang otak yang berbeda, terutama dalam aktivitas lobus frontal yang lebih aktif dibandingkan orang pada umumnya. Hal ini sering berakaitan dengan kreativitas tinggi, kecerdasan emosional, serta kepekaan terhadap lingkungan. Namun, apakah fenomena ini selaras dengan ajaran Islam? Mari kita telaah lebih dalam.

Baca Juga: Aqiqah Terbaik Untuk Anak 


Anak Indigo dalam Pandangan Islam

Dalam Islam, perkara gaib adalah hak prerogatif Allah SWT. Tidak ada satu makhluk pun, baik manusia maupun jin, yang dapat mengetahui hal-hal yang gaib secara pasti. Hal ini termaktub dalam Al-Qur’an:

“(Dialah Rabb) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu”.
(QS. Al-Jin: 26)

Oleh karena itu, Islam mengajarkan bahwa seseorang tidak boleh mempercayai ramalan atau klaim mengetahui masa depan. Hal ini dapat merusak akidah dan membawa seseorang pada kemusyrikan.


Baca juga: Rekomendasi Lembaga Amil Zakat Terbaik Bandung


Bisakah Kemampuan Indigo Menjadi Karunia?

Terdapat perbedaan antara karunia Allah dan sesuatu yang berasal dari tipu daya setan. Dalam sejarah Islam, Nabi Khidir AS dikenal memiliki ilmu laduni, yaitu ilmu yang diberikan langsung oleh Allah tanpa proses belajar:

“Maka mereka berdua (Nabi Musa dan pembantunya) mendapatkan seorang hamba dari hamba-hamba Kami (yaitu Nabi Khidir), yang telah Kami anugerahi rahmat dan telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami”.
(QS. Al-Kahfi: 65)

Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa ilmu laduni hanya kepada mereka yang taat kepada Allah. Jika kemampuan seorang anak indigo membuatnya lebih dekat kepada Allah, maka hal itu bisa jadi anugerah. Namun, jika menjauhkan dari tauhid, maka patut berhati-hati


Waspada Terhadap Tipu Daya Setan

Beberapa anak indigo mengklaim memiliki kemampuan berbicara dengan makhluk gaib atau melihat kejadian masa depan. Padahal, Islam menegaskan bahwa setan memiliki cara untuk menyesatkan manusia:

“Wahai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan, sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu-bapakmu dari surga… Sesungguhnya, ia (iblis/setan) dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka.”
(QS. Al-A’raf: 27)

Kitab Bughyatul Musytarsyidin karya Sayyid Abdurrahman Al-Mashri juga mengingatkan agar manusia tidak tergoda oleh hal-hal yang berkaitan dengan sihir dan ramalan, karena itu bisa merusak keimanan.


Baca juga: Rekomendasi Aqiqah Terbaik


Cara Menyikapi Anak Indigo dalam Islam

Sebagai seorang Muslim, berikut adalah beberapa langkah yang harus sedia jika memiliki anak dengan karakteristik indigo:

  1. Perkuat Tauhid – Ajarkan bahwa segala sesuatu berasal dari Allah SWT dan hanya kepada-Nya kita bergantung.
  2. Filter Informasi – Jangan langsung mempercayai semua ucapan anak indigo, terutama jika berkaitan dengan perkara gaib.
  3. Bimbing dengan Ilmu Islam – Bimbing anak agar menggunakan potensinya untuk kebaikan, misalnya dengan mendalami Al-Qur’an dan Hadis.
  4. Hindari Kemusyrikan – Jangan sampai anak atau orang tua terjerumus dalam praktik perdukunan atau hal-hal yang bertentangan dengan ajaran Islam.
  5. Tingkatkan Ibadah – Rutin membaca Al-Qur’an, berdzikir, dan mendekatkan diri kepada Allah agar terhindar dari tipu daya setan.

Kesimpulan

Fenomena anak indigo dalam pandangan Islam adalah sebuah ujian bagi anak dan keluarganya. Namun, jika salah arah, bisa menjadi jalan menuju kesesatan dan penyimpangan akidah.

Islam menegaskan bahwa hanya Allah yang mengetahui perkara gaib, dan manusia tidak boleh mengklaim memiliki ilmu tersebut tanpa dasar dari Al-Qur’an dan Hadis. Oleh karena itu, bagi orang tua yang memiliki anak dengan karakteristik indigo, penting untuk mengarahkan anak ke jalan yang benar, mendidiknya dengan ilmu syar’i, serta menjauhkannya dari hal-hal yang bertentangan dengan tauhid.

Wallahu a’lam.

Wakaf Tunai untuk Pengasuhan Anak Yatim dan Umat

Dari Abu Hurairah RA berkata: Rasulullah bersabda: “Apabila manusia itu meninggal dunia maka terputuslah segala amalnya kecuali tiga: yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak sholeh yang mendoakan kepadanya.” (HR Muslim).

Sahabat Al Hilal, kualitas amal itu tidak terputus pahalanya sekalipun dia telah meninggal dunia, selama amalnya masih dimanfaatkan oleh manusia. Salah satu amalan yang disebutkan dalam hadits tersebut dapat kita raih dengan mewakafkan sebagian harta kita. Berwakaf bukan hanya sekedar memberikan bantuan, wakaf tunai akan mengabadikan harta kita tetap utuh, manfaatnya melebihi umur kita dan akan terus menerus dirasakan oleh umat hingga akhir zaman.

Ingin membahagiakan anak yatim? Ingin harta kita bermanfaat bagi umat? Ingin amalan kita pahalanya terus mengalir walau kita sudah meninggal? Solusinya adalah berwakaf tunai.

Wakaf tunai adalah wakaf berbentuk uang. Jadi kita berwakaf bukan berarti menyerahkan sebidang tanah wakaf atau sebuah bangunan, kita berwakaf dengan sebagian uang kita untuk diwakafkan secara tunai.

Al Hilal sebagai nadzhir wakaf resmi yang terdaftar di Badan Wakaf Indonesia akan menggunakan amanah uang wakaf tunai agar menjadi produktif seperti Warung Umat, Sumur Pesantren Yatim, Pengelolaan Sawah Produktif dan yang lainnya. Selain akan membantu membangun potensi umat dalam aspek ekonomi, kesehatan, pendidikan, dan aspek lainnya, keuntungan dari wakaf ini nantinya akan digunakan untuk pengasuhan anak yatim, penghapal qur’an, pesantren dan masyarakat yang tidak mampu.

Yuk ikut berwakaf tunai untuk program program wakaf produktif
Rek Wakaf
BNI Syariah 155.551.155.2 an. YayasanAl Hilal

Lima Tingkatan Pahala Sedekah

LAZ AL HILAL – Ketika kita bersedekah, maka kita sedang menabung pahala jariyah yang amalnya tidak akan putus hingga akhirat kelat. Aamiin. InsyaAllah. Sahabat Al Hilal, dikutip dari Syaikh Nawawi Banten dalam Nashailul Ibad disebutkan bahwa pahala sedekah itu bertingkat-tingkat. Di dalamnya beliau menuliskan bahwa terdapat lima tingkat pahala sedekah.

Dilansir dari sumber tersebut,

Pahala tingkat pertama merupakan sedekah yang akan diganti dengan sepuluh kebaikah. Dan disinilah sedekahh yang diberikan untuk orang yang sehat secara fisik.

Pahala tingkat ke-dua merupakan sedekah yang Allah SWT akan menggantikannya denga 90 kebaikan. Apakah itu? Yakni sedekah yang diberikan kepada orang buta dan tertimpa musibah. Diriwayatkan dalam hadits Qudsi, Rasulullah SAW bersabda “Jika Aku mengambil penglihatan hamba-Ku, maka tidak ada balasan yang lebih pantas kecuali surga.” (HR. Bukhari).

Melihat dari hadits diatas, tentu menyisihkan rezeki untuk bersedekah kepada orang buta juga berpahala besar. Karena sungguh hal tersebut merupakan salah satu kebaikan, yaitu memberi kemudahan kepada orang yang kesulitan.

Pahala tingkat ke-tiga merupakan sedekah yang akan digantikan oleh Allah SWT sebanyak 900 kebaikan. Sedekah apakah itu? yakni sedekah yang diberikan kepada kerabat dan saudara yang membutuhkan. Diriwayatkan dalam hadist Tirmidzi, Rasulullah SAW bersabda “Sedekah kepada orang miskin hanya mendapatkan pahala sedekah saja, sedang sedekah kepada sanak kerabat mengandung dua keutamaan, yaitu sedekah dan menyambung tali kekerabatan.” (HR. Tirmidzi)

Pahala tingkat ke-empat merupakan sedekah yang akan digantikan oleh Allah SWT sebanyak 100.000 kebaikan, yakni sedekah kepada orang tua. Masya’Allah, sungguh besar kemuliaan yang Allah SWT berikan ketika kita sebagai seorang anak memuliakan orang tua.

Bahkan Allah SWT telah berfirman dalam QS. Lukman ayat 14 yang artinya

Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun.” (QS. Lukman: 14).

Pahala tinglat ke-lima merupakan sedekah yang akan digantikan oleh Allah SWT sebanyak 900.000 kebaikan. Apakah sedekah yang membuat Allah SWT menggantikan sebanyak Sembilan ratus ribu kebaikan? Yakni sedekah kepada ulama, atau ‘Alim atau ahli ilmu, atau ahli Fiqh.

Masya’Allah…

Dengan berbagi, kamu tak akan pernah kekurangan. Dan saat yang tepat untuk berbagi adalah disaat kamu dalam kekurangan.”

Informasi & Call Center

🌐 Website: www.alhilal.or.id

☎ Telpon: 022-2005079

📱 WA: 081 2222 02751

©️ Laz Al Hilal Copyright Picture

Operasional Ambulance Gratis Untuk Ummat

LAZ AL HILAL – Alhamdulillah, terhitung selama satu minggu ini ambulance gratis untuk ummat telah beberapa kali mengantarkan pasien ke rumah sakit dan jenazah ke tempat peristirahatan terakhirnya. Alhamdulillah, berkat ambulance gratis ini para masyarakat dan kaum dhuafa yang teramat sangat membutuhkan merasa terbantu dengan pengadaan ambulance gratis.

Salah satu pasien yang berhasil diantarkan oleh Ambulance gratis Al Hilal pada Jumat (06/03/2021), bernama Bapak Dedi Setiawan yang mendapatkan musibah patah tulang di kaki kiri nya. Dari rumahnya, Bapak Dedi diantarkan ke Ahli Tulang Abah Uba, di Daerah Sukamenak. Bandung, Jawa Barat.

Kondosi ambulance gratis untuk umat yang saat ini sedang beroperasi pun teramat sangat layak digunakan untuk saudara-saudara kita diluar sana yang teramat sangat membutuhkan ambulance gratis ini. Karena, kenyamanan dan keamanan para penumpang lah yang kami utamakan. Terimakasih untuk seluruh donatur yang telah ikut serta dalam menyisihkan Sebagian rezekinya untuk ikut dalam program pengadaan ambulance gratis untuk ummat.

Sahabat Al Hilal, mungkin kita terbiasa melihat Ambulance di sekitar rumah sakit atau klinik. Karena kita sudah terbiasa melihat ambulance-ambulance tersebut di rumah sakit atau klinik, mungkin kita tidak sadar bahwa di Negeri ini masih banyak orang yang membutuhkan ambulance secara darurat dan tidak sempat untuk datang ke rumah sakit atau klinik.

Khususnya di daerah-daerah dengan tempat tinggal yang jaraknya cukup jauh dari Rumah sakit atau klinik, sampai para pasien yatim dhuafa. Disanalah kita sebagai manusia ikut andil untuk membantu sesama umat manusia yang sedang membutuhkan pertolongan darurat.

Melalui Wakaf Pengadaan Produktif Ambulance Gratis, LAZ Al-Hilal berencana akan mengadakan Ambulance Gratis untuk antar jemput pasien yatim dhuafa, tanggap bencana, serta kegiatan sosial lainnya. InsyaAllah dari pengadaan Ambulance Gratis yang Ibu/Bapak wakaf kan tanpa disadari kita telah berinvestasi untuk akhirat kelak. Insyaallah seiring roda Ambulance berputar, maka pahala kita pun mengalir. Aamiin Ya Rabbal Alamin.

Inilah beberapa momen yang telah Ambulance gratis Al Hilal laksanakan untuk mengantarkan Bapak Dedi Setiawan dan tentunya diabadikan oleh kami, agar sahabat Al Hilal serta donatur yang telah menyisihkan Sebagian rezekinya untuk ikut dalam program pengadaan ambulance gratis Al Hilal dapat melihat dan merasakan bagaimana wakaf yang telah dilaksanakan oleh Bapak/Ibu donatur sangat bermanfaat bagi umat.

📱 Layanan Ambulance Gratis: 081122222384

Informasi & Call Center

🌐 Website: www.alhilal.or.id

☎ Telpon: 022-2005079

©️ Laz Al Hilal Copyright Picture

Hati-Hati, Sifat Ini dapat Menggugurkan Pahala!

LAZ AL HILAL – Sudah tentu, sebagai manusia kita pasti menginginkan untuk memperlihatkan sifat-sifat yang terbaik kepada semua orang. Riya. Secara bahasa merupakan pernyataan sesuatu yang tidak sesuai dengan sebenarnya. Dilansir dari kumparan, Ahli Tasawuf Muhammad Al-Barkawi mengatakan bahwa riya merupakan sifat yang lebih mencari manfaat duniawi dengan cara menampilkan amal ukhrawi (akhirat) serta segala hal yang mencerminkan amal tersebut dan penampilan itu sengaja dilakukan agar dilihat dan dipuji oleh orang lain.

Sahabat Al Hilal, Rasulullah SAW menyebut riya sebagai syirik kecil. Mengapa demikian? Dikatakan syirik karena sifat tersebut sudah menyekutukan Allah SWt dengan nafsu diri dan nafsu dunia terhadap orang lain. Sahabat Al Hilal, sebuah amalan yang dihinggapi rasa riya seringkali mempertimbangkan bagaimana orang lain memberi respons terhadap apa yang telah kita laksanakan, bukan ikhlas karena Allah lillahi ta’ala.

Tapi, tahukah sahabat Al Hilal jika sifat riya merupakan salah satu sifat yang membatalkan amalan kita atau menghilangkan amal kebaikan kita? Hal tersebut dikarenakan karena niat yang kita lakukan bukan karena Allah SWT, melainkan untuk pendapatkan pujian manusia, menyakiti hati orang lain, atau bahkan membuat hal hak sudah dikerjakan menjadi sesuatu yang dibangga-banggakan.

Sungguh Allah SWT telah menyampaikan firman-Nya dalam QS. Al Ma’un ayat 1-7 yang berbunyi

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ (1) فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ (2) وَلَا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ (3) فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ (4) الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ (5) الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ (6) وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ (7)

Tahukah kamu (orang) yang mendustakan hari pembalasan? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya. Orang-orang yang berbuat riya’ dan enggan (menolong dengan) barang berguna.” (QS. Al Ma’un: 1-7).

Informasi & Call Center

🌐 Website: www.alhilal.or.id

☎ Telpon: 022-2005079

📱 WA: 081 2222 02751

©️ Laz Al Hilal Copyright Picture

×