Menjelang Ramadhan, banyak di antara kita mulai mengevaluasi diri—baik dari sisi ibadah maupun hutang-hutang amalan yang belum ditunaikan. Salah satu yang sering terlupa adalah qadha puasa Ramadhan, yaitu puasa pengganti bagi hari-hari yang ditinggalkan pada Ramadhan sebelumnya karena uzur syar’i, seperti sakit, haid, nifas, atau perjalanan jauh.

Secara syariat, qadha puasa merupakan kewajiban yang harus dilunasi sebelum datang Ramadhan berikutnya. Ibnu Rusyd dalam Bidayatul Mujtahid fi Nihayatil Muqtashid menjelaskan:
“Batas waktu qadha puasa Ramadhan menurut pendapat yang lebih kuat adalah sebelum datang bulan Ramadhan berikutnya.”
Dari pernyataan ini, ulama memberikan pemahaman bahwa puasa qadha masih boleh dilakukan di bulan Sya’ban, bahkan meskipun sudah memasuki pertengahan bulan. Karena itu, bagi sahabat yang masih memiliki hutang puasa, masih ada waktu untuk menunaikannya sebelum Ramadhan kembali tiba.

Menariknya, beberapa sahabat Nabi dan ulama salaf terdahulu justru memperbanyak puasa sunnah di bulan Sya’ban, sebagai latihan dan persiapan sebelum memasuki bulan suci. Imam Syafi’i rahimahullah menyebut bahwa Sya’ban adalah bulan di mana manusia mulai lalai, namun para ahli ibadah justru meningkat.
Saat ini, 28 hari lagi menuju Ramadhan. Momen ini adalah waktu yang tepat untuk mempersiapkan diri—tidak hanya lahiriah, tetapi juga batin dan ibadah. Mulailah dari hal sederhana:
- Melunasi qadha puasa,
- Memperbanyak dzikir dan tilawah,
- Menata niat,
- Membersihkan hati dari prasangka dan kelalaian.
Ramadhan adalah tamu mulia yang datang sekali dalam setahun. Alangkah indahnya jika ia disambut dalam keadaan bersih dari hutang, siap memperbaiki diri, dan semangat menjemput keberkahan. Semoga Allah memudahkan langkah kita dalam menyempurnakan ibadah, menerima amalan, dan mempertemukan kembali dengan Ramadhan dalam keadaan terbaik. Aamiin.
Penulis: Indra Rizki









