Banyak orang menganggap ramadhan sebagai bulan untuk mengurangi aktivitas. Tidak sedikit yang menjadikan puasa sebagai alasan untuk bermalas malasan. Alasannya karena tidak makan dan minum, tubuh menjadi lemas, aktivitas dikurangi, semangat menurun, akhinya waktu lebih banyak terbuang.
Namun, benarkah benar puasa itu membuat kita menjadi tidak produktif atau sebenernya kita yang tanpa sadar menjadikan puasa sebagai pembenaran untuk menurunkan produktivitas? Padahal jika kita pahami lagi, ramadhan justru melatih kita lebih produktif dari biasanya.

Sejak sahur, kita sudah diajarkan untuk bangun lebih pagi. Kita makan dalam batas waktu tertentu, dan ketika azan subuh berkumandang, kita berhenti makan. Semuanya teratur. Tanpa kita sadari itu adalah latihan kedisiplinan yang terjadi ketika bulan ramadhan.
Produktif di bulan ramadhan bukan berarti memaksakan diri tanpa istirahat. Bukan tentang sibuk sepanjang hari tanpa arah. Produktif adalah tentang menggunakan waktu dengan bijak dan mengisinya dengan kegiatan yang bermanfaat.
Ramadhan justru momen terbaik untuk belajar manajemen waktu. Kita belajar membagi waktu yang ada, dengan beberapa kegiatan yang lebih banyak dari hari biasanya, seperti, waktu ibadah, sekolah atau kerja, mengaji, dan salat tarawih. Jika jadwal ibadah bisa kita jaga dengan disiplin, seharusnya tanggung jawab pekerjaan dan belajar juga bisa tetap berjalan baik seperti bulan biasanya.
Disiplin dalam ibadah seharusnya berdampak pada disiplin dalam aktivitas sehari hari. Jika kita bisa tepat waktu dalam salat, kenapa tidak bisa tepat waktu dalam menyelesaikan tugas? Semua kembali pada kendali diri. Perubahan tidak terjadi hanya karena niat, tetapi karena kemauan untuk bergerak. Diam di tempat dan terus menunda hanya akan membuat waktu terbuang sia sia.
Manajemen waktu di bulan ramadhan sangat bisa dilakukan. Salah satu caranya adalah dengan membuat skala prioritas, yaitu mendahulukan hal yang paling penting dan mendesak, seperti mengerjakan pekerjaan atau tugas sekolah. Ketika pekerjaan ditunda, yang datang justru rasa stress dan pikiran yang tidak tenang. Akibatnya, ibadah pun menjadi kurang fokus. Tugas yang menumpuk hanya akan membuat kita kewalahan di kemudian hari.
Seperti yang kita ketahui, bahwa untuk menghilangkan rasa malas dan kebiaasan menunda memang bukan hal yg mudah. Namun, bukan berarti tidak bisa. Semua berawal dari fokus dan konsisten. Cobalah mulai dari hal sederhana, buat catatan kegiatan pada malam harinya untuk rencana esok hari, tulis apa saja yang ingin dikerjakan dan diselesaikan.
Kebiasaan kecil yang awalnya terasa berat, lama kelamaan akan menjadi hal yang biasa. Dan dari kebiasaan itulah, karakter disiplin terbentuk. Bulan ramadhan bukanlah alasan untuk melambat. Justru di bulan inilah kita sedang dilatih menjadi pribadi yang lebih teratur, lebih fokus, dan disiplin









